Permasalahan Penyu - Konservasi
Headlines News :
Home » » Permasalahan Penyu

Permasalahan Penyu

Permasalahan Penyu
Keberadaan penyu, baik di dalam perairan maupun saat bertelur ketika menuju daerah peneluran
banyak mendapatkan gangguan yang menjadi ancaman bagi kehidupannya. Permasalahanpermasalahan yang dapat mengancam kehidupan penyu secara umum dapat digolongkan menjadi ancaman alami dan ancaman karena perbuatan manusia. Gangguan atau ancaman alami yang setiap saat dapat mengganggu kehidupan penyu antara lain:
Quote:

  1. Pemangsaan (predation) tukik, baik terhadap tukik yang baru keluar dari sarang (diantaranya oleh babi hutan, anjing-anjing liar, biawak dan burung elang) maupun terhadap tukik di laut (diantaranya oleh ikan cucut).
  2. Penyakit, yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau karena pencemaran lingkungan perairan.
  3. Perubahan iklim yang menyebabkan permukaan air laut naik dan banyak terjadi erosi pantai peneluran sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap berubahnya daya tetas dan keseimbangan rasio kelamin tukik.

Sedangkan gangguan atau ancaman karena perbuatan manusia yang setiap saat dapat mengganggu kehidupan penyu antara lain:
Quote:

  1. Tertangkapnya penyu karena aktivitas perikanan, baik disengaja maupun tidak disengaja dengan berbagai alat tangkap, seperti tombak , jaring insang (gill net), rawai panjang (longline) dan pukat (trawl).
  2. Penangkapan penyu dewasa untuk dimanfaatkan daging, cangkang dan tulangnya.
  3. Pengambilan telur-telur penyu yang dimanfaatkan sebagai sumber protein.
  4. Aktivitas pembangunan di wilayah pesisir yang dapat merusak habitat penyu untuk bertelur seperti penambangan pasir, pembangunan pelabuhan dan bandara, pembangunan sarana-prasarana wisata pantai dan pembangunan dinding atau tanggul pantai.









Pendidikan konservasi
Konservasi penyu merupakan upaya yang sangat penting untuk menjamin keberlangsungan populasi penyu tersebut. Kelangkaan yang terjadi secara terus-menerus dengan kecenderungan semakin lama semakin sulit ditemukan, dapat menjurus pada kepunahan. Penyu, sebagai salah satu
hewan langka, perlu segera dilakukan upaya konservasi. Untuk itu mutlak diperlukan pendidikan tentang kaidah-kaidah konservasi populasi penyu. Langkah-langkah yang dianggap penting dalam melaksanakan pendidikan konservasi penyu antara lain adalah:
Quote:
a. Memberikan ceramah-ceramah pendidikan (educational campaigns) untuk semua lapisan masyarakat mulai rumah tangga sampai seterusnya, mencakup taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.
b. Membuat Lembaran Leaflets: Leaflets dibuat dalam bentuk yang menarik dan mudah dimengerti, bertujuan untuk pencerahan kepada masyarakat.
c. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 7 dan No. 8 Tahun 1999.
Quote:
Pelatihan
Beberapa bentuk pelatihan yang dapat dilakukan dalam pengelolaan konservasi penyu antara lain sebagai berikut:

1). Pelatihan Kegiatan Penetasan Telur Penyu
Pelatihan kegiatan penetasan telur penyu bertujuan untuk memberi pengetahuan mengenai cara penyelamatan sarang-sarang telur yang ditemukan di daerah pasang surut (intertidal) setelah penyu
laut selesai bertelur. Pembusukan telur akan terjadi apabila sarang-sarang telur tersebut dibiarkan di daerah pasang surut, sehingga telur gagal menetas.
Pembuatan daerah penetasan telur (hatcheries) dilakukan di daerah supratidal adalah untuk menghindari sapuan (flushing) air laut pada siklus hari-hari bulan mati atau bulan purnama agar suhu sarang buatan tetap stabil. Kestabilan suhu sarang merupakan faktor penentu keberhasilan penetasan telur. dengan harapan terjadi tingkat penetasan telur yang tinggi (high of hatching rates).


Gambaran desain hatchery dan penangkaran penyu di Pusat Pendidikan dan Konservasi Penyu, Serangan, Bali
Bentuk bagian depan hatcheries dibuat semi permanen, agar tukik lahir langsung mampu bergerak ke laut dengan secara alami tanpa campur tangan manusia lagi. Tujuannya agar pada 6-10 tahun kemudian, tukik yang sudah dewasa secara naluri (instinct) akan beretelur kembali di sepanjang pantai hatcheries.

2). Pelatihan Pembesaran Tukik

Setelah menetas tukik seharusnya secara mandiri di bebaskan untuk menuju laut. Tetapi kadangkala diperlukan penyelamatan tukik yang masih lemah, karena pada saat di laut tukik akan berenang atau terombang-ambing dibawa arus laut sehingga dapat dengan mudah dimangsa oleh predator. Penyelamatan tukik dapat dilakukan melalui kegiatan budidaya, khususnya bagi tukik yang cacat. Tukik cacat yang berasal dari sarang hatcheries harus diperlihara dalam bak-bak budidaya sampai mencapai ukuran tertentu (berumur 2–3 bulan). Tukik cacat yang berumur 2-3 bulan ini sudah bisa
melakukan penghindaran dari predator dengan cara menyelam di karang-karang atau bergerak di komunitas sargassum, karena lobul-lobul paru-parunya sudah mampu menghisap udara. Tukik cacat yang dipelihara melalui budidaya tidak boleh mendapat gangguan yang dapat mengakibatkan kelainan tingkah laku. Perlakuan-perlakuan pemeliharaan tukik dalam budidaya
antara lain dengan cara :
Quote:
a. Kolam-kolam pemeliharaan harus berisi air laut yang mengalir
b. Pemberian makan sesuai dengan tahapan
c. Air dalam kolam pemeliharaan harus bebas dari penyakit, polusi dan
kotoran-kotoran ataupun bahan kimia yang membahayakan

Gambar 35 menyajikan contoh bak-bak pemeliharaan tukik di penangkaran penyu pulau Kerabak Ketek, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.


Pemeliharaan Tukik di penangkaran penyu retak ilir kabupaten Mukomuko



3). Pelatihan Pemberian Penandaan (Tagging) pada Penyu
Pemberian tanda (tagging) dilakukan terutama pada penyu dewasa yang bertelur. Pemberian tanda ini tidak boleh mengakibatkan penyu mati atau berubah tingkah lakunya. Pemberian tanda (tagging) dapat dilakukan pada kaki depan atau karapas bagian bawah yang diikat dengan tali senar
halus. Pemberian tanda di bagian kaki depan dimaksud agar tidak mengganggu aktivitas penyu saat menggali sarang ketika bertelur. Hal lain yang perlu diperhatikan untuk diantisipasi adalah tag yang mudah lepas atau tulisan yang terdapat pada tag terhapus. Tujuan pemberian penandaan (tagging) pada penyu adalah untuk mengetahui :
Quote:
a. Frekuensi peneluran penyu
b. Daerah ruaya penyu
c. Pertumbuhan penyu di alam
d. Interval atau jarak antar musim bertelur
e. Jumlah populasi induk di pantai peneluran
Sedangkan bahan pembuat tag, terdiri dari:
Quote:
a. Inconel Tag, yaitu tagging yang terbuat dari campuran logam, banyak digunakan di Amerika dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
b. Tag plastik, yaitu tag yang terbuat dari plastik, mudah hilang dan rusak.
c. Titanium: harga mahal, tapi lebih tahan lama karena tidak berkarat dan lebih ringan.

Cara pemberian tanda pada penyu



). Pelatihan Penanaman Pohon di Sepanjang Pantai Peneluran
Dewasa ini hampir semua daerah peneluran penyu, terutama daerah peneluran penyu hijau telah mengalami degradasi, dimana pohon-pohon di sepanjang pantai peneluran telah banyak rusak. Pohon pantai ini sangat penting karena dapat menjadi naluri peneluran penyu, terutama bagi penyu hijau.
Share this article :

SERBA SERBI

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Konservasi - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger